EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 17 PEKANBARU



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam dunia pendidikan karena merupakan salah satu pelajaran yang mengajarkan siswa bertingkah laku yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal lain yang juga sangat penting adalah Pendidikan Agama Islam memberikan pelajaran dasar dari Agama Islam sehingga siswa terutama di Sekolah Dasar mendapatkan dan mengetahui hal-hal yang mendasar didalam Agama Islam. Oleh karena itu Pelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi pelajaran yang sangat penting dan utama untuk diberikan kepada siswa di sekolah.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang bersifat unik tapi sederhana, karena berkenaan dengan manusia yang pada prinsipnya membimbing manusia dalam sebuah kegiatan yang berprogram dan mengandung makna.[1] Proses pembelajaran di kelas merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh seorang guru terhadap murid sebagai anak didik baik secara formal maupun non formal. Oleh karena itu mutu pembelajaran yang diberikan guru harus selalu ditingkatkan hal tersebut meliputi penampilan, bahan ajar, dan metode yang dikembangkan dalam proses pembelajaran.


Dalam proses belajar mengajar harus ada interaksi antara guru dan muridnya, guru memberikan rangsangan terhadap murid yang meliputi bahan pelajaran yang akan dipelajari, sedangkan murid memberikan reaksi terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk memperolah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[2]

Perubahan hasil belajar juga bersifat efelctif. Maksudnya bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya tujuan yang ingin dicapai.
Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaebam menyatakan pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan.[3] Dengan demikian pendidikan Islam adalah proses dalam membentuk manusia yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah Nabi.[4]
Salah satu mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk dan memberikan dasar-dasar pengetahuan Agama Islam bagi siswa adalah Pendidikan Agama, Islam. Pendidikan Agama Islam secara umum memuat pengetahuan tentang Agama Islamsecara mendasar yang akan menjadi modal bagi siswa sebagai pengantar untuk mendalami ilmu agama secara lebih jauh nantinya.
Pendidikan mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting, sebab melalui pendidikan dapat dibentuk kepribadian anak. Pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang ada pada manusia tersebut, dalam hal ini D. Marimba menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap pendidikan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya pribadi utama. Berdasarkan pendapat diatas maka dalam proses pendidikan itu terdapat beberapa unsur-unsur, diantaranya unsur usaha (kegiatan dan pelaksanaan), unsur adanya anak didik, unsur adanya pendidikan, dan unsur adanya alat-alat yang dipergunakan. Unsur-unsur tersebut merupakan hal yang menentukan dalam memperoleh hasil sesuai dengan apa yang diinginkan, oleh sebab itu pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan.[5]
Begitu pentingnya pendidikan agama Islam, maka dengan sewajarnya semua pihak yang terkain dengan pendidikan tersebut perlu untuk mendukungnya baik itu guru, orang tua maupun masyarakat.Baik tidak dukungan dari pihak-pihak tersebut tentu tidak terlepas dari efektifitas mereka terhadap pelajaran pendidikan agama Islam.

Efektifitas berasal dari bahasa Inggris yakni “Effective” yang berarti tercapainya suatu pekerjaan atau perbuatan yang direncanakan.[6]Sedangkan menurut istilah efektifitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.[7]
Dengan demikian efektifitas adalah keadaan yang menunjukan sejauh mana suatu kegiatan yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana dengan baik dan tercapai.
Faktor-faktor minas, bakat, kemauan, ketekunan, tekat untuk sukses dan cita­-cita yang tinggi merupakan unsur yang bersifat mendukung usaha tersebut.Dengan demikian dapatlah ditegaskan bahwa murid di SMP Negeri 17 Pekanbaru perlu mengefektifkan belajarnya sebagaimana yang telah diterangkan di atas, demi tercapainya tujuan belajar yang diharapkan atau keberhasilan dalam belajar.
Menurut bahasa efektifitas berasal dari bahasa Inggris yaitu, “Effective”menurut istilah adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.[8]
Adapun dari pengertian efektifitas di atas yaitu tentang arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan adalah proses pembelajaran mempunyai tolak ukur bagi anak didik di dalam pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian tujuan yang telah ditetapkan tersebut adalah :

1.      Siswa mampu mengubah dirinya menjadi manusia yang berakhlak mulia.
2.      Dari pembelajaran yang efektif siswa mampu mengembangkan ilmu yang telah dipelajarinya baik untuk dirinya maupun untuk orang banyak.
3.      Dapat menjadikan suasana belajar yang efektif.
Pada dasarnya proses kegiatan pembelajaran itu terdiri dari tiga komponen yaitu terdiri dari pengajar, (dosen, guru, instruktur dan tutor), siswa (yang belajar), dan bahan yang akan diajarkan berfungsi sebagai komunikasi, bahan ajar yang diberikan oleh pengajar merupakan pecan yang akan dipelajari oleh siswa dan seterusnya diadopsi sebagai bekal, setelah adopsi dari bahan ajaran yang diberikan oleh pengajar, maka makin banyak ia pelajari selama ia berada dibangku sekolah. Setiap pengajar mempunyai kapasitas mengajar yang berbeda-beda, disamping harus sesuai pula dengan ragam yang disiplin ilmu pengetahuan yang diberikan kepada siswa.[9]
Kegiatan pembelajaran mengandung arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar disuatu pihak dengan siswa/ peserta didik yang sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar dipihak lain, interaksi antara pengajaran dan siswa diharapkan merupakan motivasi, maksudnya bagaimana dalam proses interaksi itu pihak mengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal.
Tugas guru sebagai propesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih.Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.mengajar berartimeneruskan dan mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketarampilan-ketarmpilan pada siswa.[10]
Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak mulia serta menegakan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang pribadi, berbudi luhur menurut ajaran Islam.[11]
Sedangkan tujuan pendidikan nasional menurut undang-undang No. 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi anak didik agar beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandin” menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.[12]
Efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam mempunyai tolak ukur bahwa agar murid dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan yang berarti dapat mencapai kriteria yang telah ditentukan sebelumnya maka :
1.      Pengorganisasian pembelajaran diatur menjadi satuan dasar yang diatur secara logis dan sistematis.
2.      Penguasan terhadap satu unit tertentu dipersyaratkan sebelum mereka lanjut keunit/satuan bahan berikutnya.

3.      Perguruan tes diagnosis kemajuan yang dilaksanakn sesudah murid menyelesaikan kegiatan belajar untuk satuan pelajaran tertentu.
4.      Sesudah informasi ini dapat diperoleh maka dilaksanakan kegiatan pembelajaran perbaikan berupa bantuan khusus kepada murid.
5.      Peakondisi untuk belajar tuntas.
6.      Mengembangkan prosedur dan hasil belajar.
Dalam pembelajaran sangat diperlukan keefektifan dalam belajar, dan sebagai seorang pendidik jugaharustahu bagaimana pembelajaran yang efektif dan bagaimana bentuk pembelajaran yang tidak efektif. Adapun bentuk pembelajaran yang efektif adalah sebagai berikut :
1.      Belajar pendidikan agama Islam dengan baik.
2.      Tidak bermain-main di dalam belajar.
3.      Selalu menghafal apa yang diperintahkan oleh guru, baik itu bacaan Al­qur’an/ ayat-ayat pendek maupun yang lainya.
4.      Selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
5.      Selalu rajin masuk pada waktu pelajaran pendidikan agama Islam
6.      Sering belajar bersama bersama teman sekelas dan berdiskusi tentang pelajaran pendidikan agama Islam.
Kemudian di dalam pembelajaran ada bentuk atau contoh pembelajaran yang tidak efektif yakni :
1.      Guru atau murid jarang datang pada waktu belajar pendidikan agama Islam.

2.      Selalu cabut pada waktu pelajaran pendidikan agama Islam dimulai.
3.      Selalu ribut pada waktu belajar.
4.      Tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
5.      Tidak mau bertanya kepada guru apabila siswa tidak memahami apa yang disampaikan oleh guru, dan masih banyakhal-hal lain yang tidak efektif di dalam pembelajaran.
Di dalam belajar bahwa ada lima unsur yang dapat membuat pembelajaran lebih efektif menurut John B. Carrol yakni :
1.      Kecerdasan yaitu kemampuan murid pada umumnya untuk belajar.
2.      Kemampuan untuk mengerti pelajaran yaitu, kesiapan murid untuk belajar suatu pelajaran yang penting.
3.      Ketekunan yaitu sebagian besar hasil dari motivasi murid untuk belajar.
4.      Kesempatan yaitu sejumlah waktu yang digunalan untuk belajar.
5.      Mutu pembelajaran, pembelajaran yang bermutu tinggi adalah jika muridbelajar bahan-bahan pelajaran yang disampaikan secepat kemampuan merekadan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang telah aada sebelumnya.[13]
Tujuan merupakan suatu yang sangat penting dalam proses pembelajaran, apalagi dalam pendidikan agama Islam yang menuntut bagaimana anak didik dapat menjadi manusia yang berbudi luhur, bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia menurut ajaran Islam.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Abrasyi dalam buku Ahmad Tafsir, bahwa tujuan akhir tujuan pendidikan Islam adalah :
1.      Pembinaan akhlak
2.      Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan di akhirat.
3.      Penguasaan ilmu.
4.      Keterampilan bekerja dalam masyarakat.[14]
Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis laksanakan pada SMP Negeri 17 Pekanbaru, bahwa proses pembelajaran pendidikan agama Islam masih kurang efektif. Hal ini terlihat dari gejala-gejala sebagai berikut :
1.      Masih ada siswa yang keluar masuk pada waktu pelajaran dimulai.
2.      Ada sebagaian siswa yang enggan menghafal bacaan ayat pendek yang diperintahkan oleh guru.
3.      Ada sebagaian siswa yang tidak memiliki buku pelajaran agama Islam.
4.      Ada sebagaian yang malas mencatat pelajaran pendidikan agama Islam.
Berdasarkan gejala-gejala yang dipaparkan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ilmiah dengan judul :Efektifitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru.

B.     Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami judul penelitian ini, maka perlu adanya penegasan istilah yakni :
1.      Efektifitas
Menurut bahasa efektifitas berasal dari bahasa Inggris yakm “Effective” yang berarti tercapainya suatu pekerjaan atau perbuatan yang direncanakan.[15]Sedangkan menurut istilah efektifitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.[16]
Dengan demikian efektifitas adalah keadaan yang menunjukan sejauh mana suatu kegiatan yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana dengan baik dan tercapai.
2.      Pembelajaran
Suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan murid atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.[17]
Belajar adalah proses perubahan yang terus menerus pada diri manusia, karena usaha untuk mencapai di atas bintang cita-citanya dan falsafah hidupnya.[18]Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah interaksi antara guru dan siswa pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung.
3.      Pendidikan Agama Islam
Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[19]
Maksudnya adalah pendidikan yang mengubah dan mengarahkan perilaku anak didiknya agar hidup sesuai dengan konsep Islam.

C.    Permasalahan
1.      Identifikasi Masalah
Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah bahwa persoalan pokok kajian ini adalah efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam. Berdasarkan persoalan pokok tersebut, maka persoalan-persoalan yang mengitari kajian ini dapat diidentifiakasikan sebagai berikut :
1.    Efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru.
2.    Minat siswa terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam.
3.    Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru.
4.    Pengetahuan guru pendidikan agama Islam tentang proses pembelajaran.
5.    Kemampuan siswa tentang pelajaran pendidikan agama, Islam.
2.      Batasan Masalah
Mengingat banyaknya persoalan-persoalan yang mengitari kajian ini, seperti yang ada pada identifikasi masalah di atas, maka penulis memfokuskan pada efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islamdi SMP Negeri 17 Pekanbaru. Kemudian penulis hanya memfokuskan penelitian ini hanya pada proses belajar yang tertumpu pada siswa.
3.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru ?
2.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru ?

D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui efektifitas Pembelajaran Pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru.
b.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas Pembelajaran Pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 Pekanbaru.
2.      Kegunaan Penelitian
Hasil-hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk :
a.       Sebagai informasi guru dan siswa SMP Negeri 17 Pekanbaru tentang efektifitas pembelajaran pendidikan agama, Islam.
b.      Sebagai informasi bagi jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau, yakni permasalahan efektifitas pembelajaran pendidikan agama Islam.
c.       Pengembangan wawasan keilmuan penulis dalam bidang Pendidikan Islam dan yang berkaitan dengan penulisan ilmiah.
d.      Sebagai tanda kepuasan bagi penulis dalam bidang keguruan pendidikan agama Islam, bahwa penulis mampu untuk menyelasaikan penelitian ini dan dapat memperoleh gelar Sadana (S1)



[1]Arifin, Hubungan Timbal Balik dengan Pendidikan Agama Islam.Bulan Bintang, Jakarta, 1987, hlm. 172
[2]Slameto.Belajar dan Falaor-faktor yang Mempengmwhinya.Jakarta, hlm. 2
[3]Tohirin.Psikologi Pemhelajaran Pendidikan Agama Islam.Jakarta, Rajawali Pers, 2005, hlm. 8
[4]Nur Uhdiyati. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam.Bandung, Pustaka, Setia, 1997, hlm. 15.
[5]Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam, PT. Ma’rifat, Bandung 1974, hlm 19
[6]Wojo Wasito, Kamus Lengkap Inggris, Inggris-Indonesia.Bandung, Hasta 1980. hlm 49
[7]H. Emerson, Efektifitas dan Efisiensi dalam Pembangunan, Jakarta 1980, hlm 16
[8]H. Emerson, Ibid
[9]Sukartawi, Meningkatkan Efektivitas mengajar, Pustaka Jaya, hlm 16
[10]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995, hlm 4
[11]Arifin M. Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1989. hlm 41
[12]Undang-undang RI No 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Absolut, 2003. hlm 12
[13]Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, Gramedia Widiasarana. Jakarta, 2002 hlm. 226
[14]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung 1994, hlm 49
[15]Wojo Wasito, Kamus Lengkap Inggris, Inggris-Indonesia.Bandung, Hasta 1980, hlm 49
[16]H. Emerson, Loc. cit, hlm 16
[17]M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung. Remaja Rosda Karya. 1995, hlm 4
[18]Agus Soejanto, Bimbingan Belajar Kearah Belajar Sukses. Surabaya, Aksara Baru. 1991, hlm 12-13
[19]Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung. Al-Ma’arif 1974. hlm 26

1 komentar:

  1. Seharusnya PAI bukan menjadi sekedar ilmu/knowledge yang menjadi basis pengetahuan, panduan ritual dan akhlak belaka... namun mesti menjadi basis kepribadian dalam kehidupan murid, untuk selalu mau diatur oleh aturan Islam

    BalasHapus

Klik like untuk bergabung